Cerita Di Balik 1821

  • Januari 29, 2019
  • By Yuni Siti Nuraeni
  • 8 Comments



Assalamualaikum bloger

Pernah dengar tentang 1821? Atau mungkin kamu salah satu yang sudah menerapkannya dirumah? 1821 adalah program yang dicetuskan oleh abah Ihsan seorang pakar parenting. 1821 adalah program yang 'menyengaja' agar orangtua fokus dengan anaknya. 1821 adalah ayah ibu dan anak berinteraksi secara full tanpa televisi, handphone,gadget, mesin cuci, kompor, lagu, dan semua yang mengganggu kebersamaan saat itu.

Lalu apa sih 1821 itu, ko ada angka 1,8,2,dan 1? 1821 yaitu waktu dimulainya program ini,  pukul 18.00 (6 sore) sampai pukul 21.00 (9 malam) saat anak hendak tidur.Tidak ada lagi ibu yang nyambi masak dengan bercerita, tidak ada lagi ayah yang berbicara dengan anaknya sambil memegang ponsel. Tidak ada kegiatan bersama anak yang disambi dengan pekerjaan/ kegiatan lain alias Full interaksi. Kalau lah memang TV, laptop dan HP itu menjadi sumber belajar, ya bisa saja tapi hanya sesekali, ya sesekali lho tidak boleh sering!.

Jujurly, awalnya memang sulit bagi kami untuk menerapkan program ini. Setelah mengikuti PSPA( Program Sekolah Pengasuhan Anak) yang juga di gagas oleh Abah Ihsan, kami bersungguh- sungguh ingin memperbaiki cara pengasuhan kami kepada anak- anak. 'Tidak ada kata terlambat!' Itulah yang memotivasi kami untuk terus memperbaiki diri. Kami ingin anak- anak menjadi anak yang shaleh dan shaleha, maka terlebih dulu kami harus menjadi ayah dan ibu yang shaleh shaleha. Inilah beberapa hal yang kami lakukan saat kami akan dan  menerapkan 1821 di rumah.

1. Memeluk mereka dan meminta maaf atas segala perlakuan kami selama ini.
Kami sadar banyak yang sudah kami lakukan dan tidak sedikit yang melukai hati mereka. Kami terlalu egois, meminta anak- anak agar seperti yang kami inginkan tanpa memperhatikan apa yang mereka inginkan. Rasanya plong, setelah mengakui kesalahan. Anak- anak yang begitu tulus tak pernah dendam dengan ikhlas memaafkan kami.

2. Sounding Kepada Anak Bahwa Ada Peraturan Baru Yang Menyenangkan.
Perlahan dan terus menerus mengatakan pada anak-anak bahwa kami( ibu dan ayah) akan bermain bersama dimulai pukul 18-21 tanpa disambi dengan kegiatan ayah dan ibu lainya. Kita akan bermain yang menyenangkan dan belajar bersama.

3. No Gadget, TV, Laptop Dan Lainya Yang Mengganggu Kebersamaan
Hal ini lah yang cukup sulit buat kami, yang harus rela menjauhkan bahkan mematikan HP saat bersama anak-anak. Tapi kami coba perlahan namun pasti. Yah walau kadang suka cari- cari kesempatan. Saat anak-anak dengan ayahnya saya mencuri kesempatan ambil HP dan membaca beberapa pesan. Pun dengan ayahnyaπŸ˜‚πŸ˜‚ jangan ditiru ya! πŸ˜€ Jadi kalo bisa jawab pesan atau ikut nimbrung di grup sebentar terus ngilang itu tandanya sedang curi- curi kesempatan πŸ˜‚πŸ˜‚. Buat anak- anak tentu ini tak mudah,  no TV saat ada acara kesukaan mereka, saat kartun kesayangannya tayang tapi tak bisa menyaksikan..cucuran air mata, teriakan dan penolakan pun sering terjadi. Kami tetap tak gentar, konsisten dengan kesepakan awal.

4.Fokus Pada Anak-anak
Biasaya saat bersama anak, tak sedikit kita menyambinya dengan kegiatan lain bukan? Kita? Saya kali πŸ˜πŸ˜‚. Raga kita didekat anak, tapi hati kita tidak, mata melihat handphone, mulut menyahut panggilan anak, anak bercerita kita sibuk memasak, anak bermain kita pun sibuk dengan dunia kita. Ya Allah, betapa sibukkah kita hingga saat bersama anak pun kita tak fokus dengan mereka? padahal seharian sudah sibuk bekerja diluar, hanya sebentar kebersamaan kita dengan anak- anak. Kelak saat mereka tumbuh dewasa, merekapun akan memiliki kesibukan sendiri. Jadi fokuslah saat bersama anak- anak. Hentikan, stop dulu apa yang sedang kamu kerjakan. Jika memang tak bisa ditunda, bilang padanya' sebentar ya, ibu selesaikan pekerjaan ibu dulu, setelah itu kita main'. Fokus Bercerita dengan serius, bertanya dengan tulus, dan memahami mereka dengan sepenuh hati. Jangan badan dimana pikiran dimana ya! 😁

5. Kreatif Mencari Bahan Bermain dan Belajar Bersama
Awalnya sulit, bingung mau main apalagi ya dengan anak- anak. Main monopoli sudah, main perang- perangan sudah, main petak umpet sudah, bercerita kisah nabi, para sahabat, dan makhluk bumi. Kita diasah untuk terus kreatif mencari bahan untuk 1821. Anak- anak senang, kreatifitas mereka pun terasah. Kini mereka sudah tak perlu lagi diajak membaca, mereka pun dengan sendirinya meminta buku lain yang belum dibaca. Tak perlu diminta bercerita, tapi dengan sendirinya bercerita keseharianya disekolah atau saat bermain bersama teman- temannya.

6. Belajar, Bermain, Ngobrol
Kami mulai biasanya dengan shalat maghrib dan isya berjamaah( saya dan anak perempuan saya sedangkan sang ayah dan anak laki- laki kami ke Mesjid bersama.
Dilanjutkan dengan murojaah hafalan anak- anak dan pembacaan qiroati. Tiap hari polanya tidak seperti itu, flexible lah pokonya, kadang kalau anak- anak baru pulang sekolah karena pulang bersama ayahnya, setelah shalat maghrib ya makan. Atau jika disekolah anak- anak ada ulangan, ya belajar😊. Tapi tetap istiqomah tanpa HP,TV dsb yang mengganggu kebersamaan.  Bermain selalu jadi pilihan ketika kami merasa lelah karena aktifitas disiang hari. Main bersama , main apa saja yang ada di rumah. Atau hanya ada sesi ngobrol dan curhat saja. Anak- anak antusias bercerita, bahkan ada yang harus digali terus agar mau bercerita. Sederhana, mudah tapi hasilnya luarbiasa. Belajar tidak hanya dari buku pelajaran, tapi dari sikap, perilaku dan semua benda yang ada dirumah. Bermain tak harus membeli mainan, tapi menjadikan barang- barang yang ada dirumah menjadi permainan. Mengobrol hal- hal kecil, tapi sangat dalam dan melebar.

Itulah sekelumit cerita di balik 1821 yang sudah kami terapkan dirumah kami. Kami mencoba dan terus berusaha untuk menjadi orangtua betulan bukan orangtua kebetulan.  Semoga bermanfaat



#ODOP
#Day28
#EstriLookCommunity


You Might Also Like

8 komentar

  1. Wah mantap Bun Informasinya Bun. Saya harus mencoba menerapkannya nih Bun. Kalau gadget sih inshaAllah sudah mulai bisa namun TV masih agak sulit ini. Semoga ke depan bisa diterapkan pelan-pelan aamiin. Bismillah

    BalasHapus
  2. Saya udah sering banget pengen nyoba nerapin ini dirumah, tapi masih belum kuat tekadnya, jadilah kadang iya kadang enggak. Padahal jelas sekali bedanya saat saya menerapkan 1821 dirumah, quality time bersama anak2 dan suami bener2 terasa, apalagi bagi yang bekerja fulltime kayak saya. Huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat bun, sy juga perlahan-lahan.dan insyaAllah bisa

      Hapus
  3. Saya malah dengarnya 1921 bu. Dulu kami ada program itu. 19.00 sd 21.00 pukul setempat.

    BalasHapus
  4. Wah mba, butuh perjuangan dan keejasama anyar anggota keluarga tenrunya agar bisa diterapkan dengan optimal 1821 ini. Awal awal pasti susah ya, apalagi kalau anak dan ortunya memang terbiasa bergadget ria... (ini mah saya). Hihihi...
    Kudu dikuatin lagi emang niatnya ya... πŸ’ͺ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat ba.. Memang tidak mudah dari yang sehari-hari yang belum Sperti ini. Bismillah 😍😊

      Hapus