Pemuda Idaman, Anak Mami

  • Januari 29, 2019
  • By Yuni Siti Nuraeni
  • 0 Comments




Namaku Jaya, dan nama lengkapku adalah Jaya Merdeka Sejahtera. Kakeku yang saat itu memberiku nama. Aku yang saat itu masih bayi tentu saja tak bisa menolaknya. Saat ini hanya bisa berterima kasih dan berbuat serta berdoa agar namaku itu benar- benar sesuai doa dan harapan keluargaku terutama ibu dan ayahku.
Aku adalah anak semata wayang dari pasangan Bapak Hariman dan  Ibu Wati. Mereka sangat menyangiku sampai sampai aku tidak boleh jauh dari mereka. Padahal aku punya hobi berpetualang. Saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas, bapak dan ibu ku sangat over protektif sekali karena mereka melihat anak anak seusiaku saat itu sudah banyak yang merokok bahkan sering kali terlibat tawuran dengan siswa SMA lainnya dan yang lebih membuat mereka ngeri adalah menghamili anak orang.

Tuuuuuutttt

Gawai ku berbunyi
Aku pun segera menjawab setelah melihat itu dari "My mom"

[ Jaya, kamu dimana? sepulang sekolah tidak ngelayap ya!] tegas ibuku di telepon.

"Anak mamah banget sih lo" ejek salah satu temanku.

Aku tak perdulikan ledekan temanku itu karena memang disekolah aku sudah terbiasa dengan sebutan itu.

"Iya bu, Jaya pulang sebentar lagi" jawabku.

Kami memang biasa kumpul dulu sebelum pulang kerumah, dikantin belakang sekolah tempat favorit saat itu. Sambil menunggu angkutan umum yang akan mengantarkan ku kerumah aku pun terbiasa ikut nongkrong bersama teman.

"Rokok," Ucap Maman teman sekelasku sembari menyodorkan sebatang rokok.

"Gak " Tolak ku.
"Banci banget sih lo, gak gaul" Ujar Maman kesal.

Aku hanya tersenyum tak memperdulikan bully an nya itu.

"Aku tak mau merusak paru- paru ku hanya karena tidak mau dikatakan banci dan gak gaul. Biar saja yang penting aku bukan banci", Gumamku dalam hati.

Teman-temanku sebenernya baik, yang ku tahu, mereka yang melakukan itu semua karena memang minimnya keteladanan dari ayah/ ibu dalam kehidupan mereka, dan tentu saja kasih sayang dan apresiasi yang diberikan. Diluar mereka merasa dihargai, tapi dirumah mereka di rendahkan, apa yang mereka lakukan selalu saja salah dimata orangtua mereka, dibanding- bandingkan bahkan secara tak sengaja dibully. Itulah pengakuan Soni salah satu teman sekelasku yang sekarang kabur dari rumahnya.

 Aku sangat bersyukur karena kedua orangtua ku sudah banyak memberikan kasih sayang, sehingga aku tidak terjerumus dalam hal -hal negatif. Figur ayah yang mengayomi, dan ibu yang selalu mengapresiasi apapun pilihan ku. Ya, tapi mereka memberi masukan agar aku tak salah pilih dan tetap bertanggung jawab akan pilihanku sendiri.

Kini aku berada jauh dari kedua orangtua ku untuk menggapai mimpi. Nasehat mereka selalu ku ingat, bahwa masa muda itu hanya lah sesaat, hiasilah dengan ketaatan pada Allah, maka engkau akan bahagia dunia akhirat. Aku pun selalu teringat akan nasehat pak ustadz Royan yang pengajianya tak pernah aku lewatkan, ia yang saat itu membacakan ayat suci alquran membuat hati ini terenyuh.

"Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?"  [al-An’├óm/6: 32]

Menjadi aktifis dakwah dikampus dan aktif dalam kegiatan alam kini menjadi kesibukan ku selain kuliah. Kini aku dipercaya untuk mengikuti Musabaqoh tilawatil qur'an di Yaman mewakili Indonesia. Masa mudaku akan kulalui dengan hal- hal positif, aku akan mengharumkan bangsa dan negara dan tentu saja agama yang ku anut dengan caraku.



#ODOP
#Day27
#EstriLookCommunity
#Fiction

You Might Also Like

0 komentar